MAKALAH
DASAR TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
PENGGARAMAN
Oleh
:
Rosa
Putri Nur Cahyani
165080300111040
T 01
TEKNOLOGI
HASIL PERIKANAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2017
KATA PENGANTAR
Syukur
Alhamdulilah, kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-nya, saya dapat
menyelesaikan makalah dasar teknologi hasil perikanan yang berjudul “Penggaraman”
dengan tepat waktu. Dan terima kasih kami ucapkan kepada dosen dasar teknologi
hasil perikanan kami yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah
ini.
Saya
berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi sesama.Makalah ini keseluruhan
berisi tentang pengawetan penggaraman meliputi definisi, macam-macam, dan
disertai cara penggaraman ikan.Makalah ini juga berisi peran dan fungsi
karbohidrat.
Saya
menyadari makalah ini jauh dari sempurna, maka dari itu kritik dan saran sangat
diharapkan untuk perbaikan kedepannya.Semoga makalah ini dapat menambah wawasan
dan pengetauan kita semua.
Malang, 8 Januari 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan adalah bahan pangan yang mudah rusak/membusuk.
Baru hanya dalam sekitar 8 jam sejak ikan ditangkap dan didaratkan sudah akan
timbul proses perubahan yang mengarah pada proses kerusakan. Karena itu agar
ikan dan hasil perikanan lainnya dapat dimanfaatkan secara maksimal mungkin
perlu dijaga kondisinya. Pengolahan merupakan salah satu cara untuk
mempertahankan ikan dari proses pembusukan sehingga mampu disimpan lama sampai
tiba waktunya untuk dijadikan sebagai bahan konsumsi.
Ikan merupakan sumber makanan yang
sangat penting bagi manusia karena mengandung potein yang tinggi yaitu berkisar
antar 18-20% sehingga sangat baik bagi tubuh manusia dan rellatif murah
harganya, sehingga ikan menjadi komoditas yang penting. Pengawetan dan
pengolahan bahan pangan bertujuan untuk menghambat atau menghentikan kegiatan
enzim atau mikroorganisme yang dapat menimbulkan pembusukan dan memberikan
sifat fisikawi dan organoleptik yang khas. Keadaan ini dapat diatasi dengan
beberapa cara pengolahan dan pengawetan.
1.2 Tujuan
·
Untuk mengetahui pengertian penggaraman.
·
Untuk mengetahui proses dan prinsip pengawetan dan penggaraman.
·
Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam dan penggaraman.
·
Untuk mengetahui tahapan dari proses penggaraman.
1.3 Manfaat
·
Mengetahui pengertian penggaraman.
·
Mengetahui proses dan prinsip pengawetan dan penggaraman.
·
Mengetahui metode yang digunakan dalam dan penggaraman.
·
Mengetahui tahapan dari proses penggaraman.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penggaraman
Istilah
penggaraman yang lebih akrab dikenal dengan sebutan pengasinan, merupakan cara
pengawetan ikan yang produknya paling gampang ditemui diseluruh pelosok
Indonesia. Ada beberapa alasan yang menyebabkan teknologi penggaraman ini
merupakan cara yang paling banyak dilakukan untuk mengawetkan ikan, yaitu :
1.
Teknik penggaraman merupakan teknologi yang sangat
sederhana dan dapat dilakukan oleh semua orang.
2.
Teknologi yang menggunakan garam ini merupakan cara
pengawetan paling murah.
3.
Hasil olahan yang dikombinasikan dengan cara pengeringan
mempunyai daya tahan lama, sehingga dapat disimpan atau didistribusikan ke
daerah yang jauh tanpa memerlukan perlakukan khusus.
4.
Produk ikan asin harganya murah, sehingga dapat
terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Secara
umum pengertian penggaraman adalah suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan
untuk mengawetkan produk hasil perikanan dengan menggunakan garam. Garam yang
digunakan adalah jenis garam napur (NaCl), baik berupa kristal maupun larutan.
2.2 Metode Penggaraman
Mekanisme
pengawetan ikan melalui proses penggaraman adalah sebagai berikut :
1.
Garam menyerap air dari dalam tubuh ikan melalui proses
osmosa. Akibatnya kandungan air dalam tubuh ikan yang menjadi media hidup
bakteri menjadi berkurang. Kekurangan air dilingkungan tempat bakteri hidup
mengakibatkan proses metabolisme dalam tubuh bakteri menjadi terganggu. Dengan
demikian proses kemunduran mutu ikan oleh bakteri dapat dihambat atau
dihentikan.
2.
Selain menyerap kandungan air dari tubuh ikan, garam juga
menyerap air dari dalam tubuh bakteri sehingga bekteri akan mengalami plasmolisis
(pemisahan inti plasma) sehingga bakteri akan mati.
Teknologi
penggaraman biasanya tidak digunakan sebagai metode pengawetan tunggal,
biasanya masih dilanjutkan dengan proses pengawetan lain seperti pengeringan
ataupun dengan perebusan. Sehingga kita bisa menjumpai tiga macam produk ikan
asin, yaitu : ikan asin basah, ikan asin kering dan ikan asin rebus (ikan
pindang). Pada dasarnya, metode penggaraman ikan dapat dikelompokkan menjadi
tiga macam yaitu penggaraman kering (Dry Salting), penggraman basah (Wet
Salting) dan Kench Salting.
2.2.1 Penggaraman Kering (Dry Salting)
Metode
penggaraman kering menggunakan kristal garam yang dicampurkan dengan ikan. Pada
umumnya, ikan yang berukuran besar dibuang isi perut dan badannya dibelah dua.
Dalam proses penggaraman ikan ditempatkan didalam wadah yang kedap air. Ikan
disusun rapi dalam wadah selapis demi selapis dengan setiap lapisan ikan
ditaburi garam. Lapisan paling atas dan paling bawah wadah merupakan lapisan
garam. Garam yang digunakan pada proses penggaraman umumnya berjumlah 10 % - 35
% dari berat ikan yang digarami.
Pada
waktu ikan bersentuhan dengan kulit / daging ikan (yang basah/berair), garam
itu mula-mula akan membentuk larutan pekat. Larutan ini kemudian akan meresap
kedalam daging ikan melalui proses osmosa. Jadi, kristal garam tidak langsung
menyerap air, tetapi terlebih dahulu berubah jadi larutan. Semakin lama larutan
akan semakin banyak dan ini berarti kandungan air dalam tubuh ikan semakin
berkurang.
2.2.2 Penggaraman Basah (Wet Salting)
Penggaraman
basah menggunakan larutan garam 30 - 35 % (dalam 1 liter air terdapat 30 – 35
gram garam). Ikan yang akan digarami dimasukkan kedalam larutan garam tersebut,
kemudian bagian atas wadah ditutup dan diberi pemberat agar semua ikan
terendam. Lama waktu perendaman tergantung pada ukuran ketebalan tubuh ikan dan
derajat keasinan yang diinginkan.
Dalam
proses osmosa, kepekatan larutan garam akan semakin berkurang karena adanya
kandungan air yang keluar dari tubuh ikan, sementara itu molekul garam masuk
kedalam tubuh ikan. Proses osmosa akan berhenti apabila kepekatan larutan
diluar dan didalam tubuh ikan sudah seimbang.
2.2.3 Kench Salting
Pada
dasarnya, teknik penggaraman ini sama dengan pengaraman kering (dry salting)
tetapi tidak mengunakan bak /wadah penyimpanan. Ikan dicampur dengan garam dan
dibiarkan diatas lantai atau geladak kapal, larutan air yang terbentuk
dibiarkan mengalir dan terbuang. Kelemahan dari cara ini adalah memerlukan
jumlah garam yang lebih banyak dan proses penggaraman berlangsung sangat
lambat.
2.3 Pelaksanaan Penggaraman
2.3.1 Persiapan
1.
Penyediaan bahan baku.
-
Ikan yang akan diproses sebaiknya dipisahkan berdasarkan
jenis, tingkat kesegaran dan ukuran ikannya. Hal ini dilakukan untuk
penyeragaman penetrasi garam pada saat penggaraman berlangsung.
-
Sediakan garam sebanyak 10 – 35 % dari berat total ikan
yang akan diproses, tergantung tingkat keasinan yang diinginkan. Sebaiknya,
gunakan garam murni (NaCl 99%) agar ikan asin berkualitas baik.
2.
Penyediaan peralatan
-
Siapkan wadah bak kedap air yang terbuat dari semen,
kayu, fibre atau plastik. Bila proses penggaraman menggunakan metode kench
salting, wadah bak penggaraman tidak diperlukan.
-
Siapkan penutup bak sesuai ukuran bak dilengkapi dengan
pemberat untuk membantu agar semua ikan terendam dalam larutan garam.
-
Pisau atau golok yang tajam untuk membersihkan dan
menyiangi ikan.
-
Timbangan untuk menimbang ikan yang telah dibersihkan serta
jumlah garam yang dibutuhkan.
-
Keranjang plastik atau bambu untuk mengangkut ikan
sebelum dan setelah proses penggaraman.
-
Tempat penjemuran atau para-para yang tingginya kurang
lebih 1 meter diatas permukaan tanah. Sebaiknya para-para dibuat miring 15o
ke arah datangnya angin untuk mempercepat proses pengeringan.
3.
Penanganan dan penyiangan
-
Untuk mempermudah proses penanganan, tempatkan ikan
diwadah terpisah sesuai ukuran, jenis dan tingkat kesegaran.
-
Pada ikan berukuran besar, perlu dilakukan penyiangan
dengan membuang isi perut, insang dan sisik. Kemudian tubuh ikan dibelah
menjadi dua sepanjang garis punggung kearah perut. Hal ini dilakukan untuk
mempercepat proses penggaraman.
-
Pada ikan yang berukuran sedang, cukup dibersihkan
insang, sisik dan isi perut. Bagian badan tidak perlu dibelah.
-
Pada ikan kecil seperti teri atau petek, cukup dicuci
dengan air bersih saja, tidak perlu disiangi.
-
Proses pencucian dilakukan dengan air bersih yang
mengalir, agar ikan benar-benar bersih.
-
Tiriskan ikan yang telah dicuci bersih dalam wadah
keranjang plastik atau bambu yang telah disediakan. Pada proses penirisan ini,
ikan disusun rapi dengan perut menghadap ke bawah agar tidak ada air yang
menggenang dirongga perutnya.
-
Setelah ikan agak kering, timbanglah ikan agar dapat
mengetahui jumlah garam yang diperlukan dalam proses penggaraman
2.3.2 Proses Penggaraman
1.
Metode dry salting
-
Sediakan kristal garam sesuai dengan jumlah ikan yang
akan diproses. Untuk ikan besar sediakan garam 20 – 30 % dari berat ikan, ikan
ukuran sedang 15 – 20 % sedangkan ikan berukuran kecil cukup 5 %. Gunakan garam
murni agar hasil olahannya berkualitas baik.
-
Taburkan garam ke dasar bak setebal 1 – 5 cm tergantung jumlah
ikan yang diolah. Lapisan ini berfungsi sebagai alas ikan pada saat proses
penggaraman.
-
Susunlah ikan dengan rapi diatas lapisan garam tadi.
Usahakan bagian perut ikan menghadap kebawah. Diatas lapisan ikan yang sudah
tersusun, taburkan kembali garam secukupnya. Lakukan itu sampai semua ikan
tertampung didalam wadah, setiap lapisan ikan selalu diselingi oleh lapisan
garam. Pada lapisan atas ditebarkan garam setebal 5 cm agar tidak dihinggapi
lalat.
-
Tutuplah bak atau wadah dengan papan yang telah diberi
pemberat agar proses penggaraman dapat berlangsung dengan baik. Ikan dengan
tingkat keasinan tertentu dapat diperoleh sebagai hasil akhir proses
penggaraman.
-
Selesainya proses penggaraman ditandai dengan adanya
perubahan tekstur, daging ikan menjadi kencang dan padat. Lamanya penggaraman
tergantung jenis, ukuran dan tingkat kesegaran ikan. Walau demikian, umumnya
proses penggaraman dapat berlangsung 1 – 3 hari untuk ikan ukuran besar, 12 –
24 jam untuk ikan ukuran sedang dan 6 – 12 jam untuk ikan ukuran kecil.
-
Langkah selanjutnya, ikan diangkat dari tempat
penggaraman. Ikan dicuci dan dibersihkan dari kotoran yang menempel, kemudian
ditiriskan dan selanjutnya ikan dijemur dengan disusun diatas para-para yang
sudah disiapkan.
2.
Metode wet salting
-
Pisahkan ikan sesuai dengan ukuran, jenis dan tingkat
kesegaran.
-
Sebagai media penggaraman. Gunakan larutan garam dengan
konsentrasi tertetu, tergantung tingkat keasinan yang diinginkan.
-
Bila proses perendaman akan menghabiskan waktu lebih dari
24 jam, gunakan larutan garam yang lewat jenuh agar kemapuan menarik cairan
dalam tubuh ikan menjadi lebih besar dan cepat. Dengan menggunakan larutan
lewat jenuh, maka tidak diperlukan lagi penambahan garam pada saat penggaraman
sedang berlangsung.
-
Untuk mengetahui larutan sudah jenuh atau belum, bisa
dilakukan dengan memasukka biji kemiri matang kedalam larutan yang sudah
dibuat. Bila biji kemiri tenggelam berarti larutan belum jenuh, bila biji
kemiri mengapung dipermukaan berarti larutan sudah jenuh.
-
Susunlah ikan dengan rapi secara berlapis didalam wadah
yang telah disediakan. Tambahkan larutan garam yang sudah dibuat sampai semua
ikan terendam.
-
Tutuplan bak dengan papan dan diberi pemberat supaya
semua ikan tetap terendam dalam larutan garam.
-
Bila konsentrasi cairan didalam dan di luar tubuh ikan
sudah sama, maka proses penggaraman dianggap selesai.
-
Ikan diangkat dari bak penggaraman, kemudian dicuci dan
ditiriskan. Setelah itu ikan dijemur diatas para-para sampai kering.
3.
Metode kench salting
-
Seperti metode sebelumnya, ikan dipisahkan sesuai jenis,
ukuran dan tingkat kesegaran.
-
Karena tidak menggunakan wadah, ikan ditumpuk pada suatu
bidang datar lau ditaburi garam secukupnya sampai seluruh permukaan tubuh ikan
tertutup oleh garam. Tumpukan ikan tersebut ditutup dengan plastik agar tidak
dihinggapi lalat.
-
Proses penggaraman dianggap selesai bila telah terjadi
perubahan tekstur pada tubuh ikan. Tubuh ikan jadi lebih kencang dan padat.
2.4 Kekurangan Pengawetan Penggaraman
1. Pada
penggaraman dengan metode dry salting mempunyai kelemahan yaitu terjadi
oksidasi dengan oksigen pada ikan.
2. Pada
penggaraman dengan metode wet salting yaitu pada saat proses ikan dimasukkan larutan
garam, jika terlalu sering diaduk akan menyebabkan ikan rusak, namun jika tidak
diaduk, kosentrasi garam tidak merata.
3. Pada
penggaraman basah banyak sisik-sisik ikan yang terlepas dan menempel pada ikan
lainnya sehingga menjadikan ikan tersebut kurang menarik dan dagingnya kurang
padat.
4. Penggaraman
ikan jika tidak menggunakan garam murni akan menghasilkan produk yang jelek,
karena unsur selain NaCl akan mempengaruhi mutu mutu ikan asin yang dihasilkan
. Hal ini dikarenakan :
a) Garam
yang mengandung unsur Ca dan Mg memperlambat penetrasi pada tubuh ikan,
sehingga memungkinkan proses pembusukan tetap berjalan selama proses
penggaraman. Selain itu produk ikan asin yang dihasilkan bersifat higroskopis.
b) Garam
yang mengandung 0,5 % - 1 % CaSO4 menyebabkan ikan asin yang
dihasilkan mempunyai daging yang putih (pucat) dan kaku.
c) Garam
yang mengandung MgCl2 dan MgSO4 akan menghasilkan ikan
asin yang pahit.
d) Garam
yang mengandung Cu dan Fe dapat mengakibatkan ikan asin berwarna kuning atau
cokelat kotor.
e) Garam
yang mengandung CaCl2 akan menyebabkan ikan berwarna putih (pucat),
keras dan mudah pecah.
Garam
yang baik dapat diperoleh dengan pengendalian waktu dalam proses pengendapan
garam. Tetepi cara ini sulit dilakukan untuk menghasilkan garam berkualitas
baik. Sehingga kristal garam hasil endapan biasanya diolah lagi di pabrik
pengolahan garam untuk menghilangkan unsur-unsur yang merugikan seperti yang
telah disebutkan diatas. Berdasarkan kandungan unsur kimianya, garam dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelas seperti dapat
dilihat
pada tabel berikut
|
Unsur
|
Kandungan (%)
|
||
|
Kelas 1
|
Kelas 2
|
Kelas 3
|
|
|
NaCl
|
96
|
95
|
91
|
|
CaCl2
|
1
|
0,9
|
0,4
|
|
MgSO4
|
0,2
|
0,5
|
1
|
|
MgCl2
|
0,2
|
0,5
|
1,2
|
|
Bahan tak larut
|
-
|
Sangat sedikit
|
0,2
|
|
Air
|
2,6
|
3,1
|
0,2
|
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
-
Penggaraman adalah suatu rangkaian kegiatan yang
bertujuan untuk mengawetkan produk hasil perikanan dengan menggunakan garam.
-
Penggaraman banyak digunakan masyarakat karena murah dan
mudah untuk dilakukan.
-
Metode penggaraman ada 3 yaitu penggaraman kering (dry
salting), penggaraman basah (wet salting), kench salting.
-
Pengawetan dengan metode penggaraman sebaiknya
menggunakan garam yang alami agar mendapatkan produk hasil yang bermutu tinggi.
3.2 Saran
Setelah mengetahui materi pengawetan
penggaraman diharapkan kita dapat memahaminya dan menerapkan dalam kehidupan
kita, agar dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing dibidang pangan dan
perikanan.
DAFTAR PUSTAKA
Reo, Albert R.2013.Mutu
Ikan Kakap Merah yang Diolah dengan Perbedaan Kosentrasi Larutan Garam dan Lama
Pengeringan.Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis.9(1):35-44.
Susanto, A.B., Khoirono.,
K.P Angin., N. Maharani., D. Ariana., A. Saefusin.2004.Teknik Penggaraman dan
Pengeringan.Departemen Pendidikan Nasional.
Komentar
Posting Komentar